Pendidikan

Kualitas guru dan pendidikan di Indonesia

admin | Friday, 24/03/2017 16:16 WIB

Sejarah-Singkat-Hari-Guru-Nasional-dan-lahirnya-Persatuan-Guru-Republik-Indonesia-PGRI

Alokasi anggaran pendidikan di tahun 2016 yang mencapai lebih dari Rp 400 trilliun (20 persen dari APBN) memungkinkan biaya pendidikan menjadi lebih murah. Namun demikian, peningkatan anggaran ini masih belum sebanding dengan harapan peningkatan kualitas baik guru maupun pendidikan secara umum di Indonesia

Dalam kurun waktu 10 tahun ini, anggaran pendidikan di Indonesia meningkat lebih dari dua kali lipat, dari Rp 175 trilliun di 2006 menjadi Rp 400 trilliun di tahun 2016. Alokasi dana untuk peningkatan kualitas guru juga sudah mencapai 64 persen atau sekitar Rp 297 triliun dari total anggaran pendidikan. Namun demikian masih banyak sekali terjadi tindak pindana korupsi dan pungli di sektor pendidikan yang menyebabkan penyaluran anggaran menjadi sangat tidak efektif dan efisien.

Guru yang memiliki sertifikat tidak mencapai 50%
Dari 2,3 juta total jumlah guru negeri, kita hanya memiliki sekitar 1 juta guru yang bersertifikat. Artinya guru yang memenuhi standar atau bisa menerima tunjangan anggaran sertifikasi hanya sekitar 44%. Masih banyak sekali pengajar di Indonesia yang sangat tidak memadai untuk memberikan pendidikan yang bermutu untuk generasi muda.

Guru bersertifikat masih kurang bagus kualitasnya
Menurut Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo, alokasi anggaran bagi sertifikasi guru banyak yang masih sia-sia karena sebagian pengajar kurang memenuhi standar kualitas. “Selain kualitasnya yang kurang bagus, mereka juga maunya kumpul di daerah perkotaan, bukan di daerah terpelosok yang membutuhkan,” katanya.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Harris Iskandar menanggapi, sertifikasi guru yang baru saja berjalan mungkin belum memberikan dampak signifikan terhadap mutu pendidikan. Meski demikian, ke depan diharapkan ada perbaikan mutu. “Kita telanjur memilih strategi ini. Kami percaya, dengan memuliakan dan menyejahterakan guru, nantinya pasti ada peningkatan mutu pendidikan,” ucapnya.



Insentif guru pelosok diharapkan dapat membantu
Khusus bagi guru-guru di daerah 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal), Kemdikbud memberlakukan sertifikasi guru dengan perlakuan khusus, yaitu dengan mempermudah kriteria. Selain itu, mereka juga disediakan tunjangan kemahalan dan insentif dari pemerintah daerah. “Guru-guru yang mau berkarya di ‘garis depan’ penghasilannya lumayan, bisa sampai Rp 12 juta per bulan. Mereka juga langsung diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS). Kami juga berencana memberikan insentif tanah di kampung agar guru-guru tersebut bisa berakulturasi dengan masyarakat setempat,” tutur Harris.

Tags: , ,

Top